Cari Blog Ini

Jumat, 13 Desember 2019

[Cerpen] Orang-orang Gila

(Tayang di Radar Banyumas edisi Minggu, 8 Desember 2019). Dokpri.

Oleh : Gita FU

Tak pernah terpikirkan oleh Sarwono, dari mana datangnya orang-orang gila itu. Jika adiknya bertanya, ia hanya akan mengangkat bahu. Ia terlalu malas mencari tahu Sepanjang ingatannya, sejak ia masih bocah SD hanya si Pur dan si As  yang biasa berkeliaran di kampungnya. Mereka kini menua, tapi masih setia mengorek-ngorek sampah, bicara sendiri, makan, minum, dan tidur di sembarang tempat. Ya, itulah si Pur dan si As yang ia kenal. Tapi sekarang agaknya ia harus meralat jumlah orang gila di lingkungannya.

"Mas, kemarin waktu aku ngejar layangan liwung, aku lihat ada laki-laki kelihatan anunya, duduk di bawah pohon petai Pak Pono," lapor adiknya, si Tono.

"Masa? Terus layangannya dapat?" tanggap Sarwono.

"Ya, batal! Wong aku takut sama orang gila itu!" Bocah kelas lima SD itu bersungut-sungut. Sarwono terkekeh-kekeh.

"Ya, kamu jangan dekat-dekat, Ton!" sembur ibu mereka, Sarmiyah. Kedua tangannya sibuk  mengadon bakwan jagung di baskom besar.

"Makanya aku lari, Bu! Oh iya, pas lari itu aku lihat di pinggir lapangan bola ada lagi," cerocos Tono bersemangat, "perempuan, badannya dikerubungi laler! Lagi jongkok sambil makan sisa nasi dari tempat sampah!"

Sarwono berhitung, "Kenapa jadi banyak orang gila di daerah kita, ya? Ckckck. Mengkhawatirkan." Ia lalu teringat seorang laki-laki aneh yang mengamuk di depan pos ronda.

"Jaman susah gini, bikin orang  banyak yang sinting. Persoalan ekonomi lah, keluargalah. Amit-amit jangan sampai ada keturunanku yang gila," timpal Sarmiyah. "Kalian harus tetap eling sama Gusti Allah, ya. Walau hidup miskin, kepala kita tetap waras!"

Sarmiyah berkata demikian bukan tanpa alasan. Ia adalah janda ditinggal mati suaminya lima tahun silam. Kalau ia tak berpikiran sehat, tentu sudah kelimpungan memikirkan sumber nafkah. Padahal suaminya dulu cuma penjaga sekolah, tidak meninggalkan warisan. Dan saat itu Sarwono masih butuh biaya sekolah, demikian pula  Tono yang baru masuk SD.

"Tapi jadi orang gila kan enak, Bu. Nggak usah mikirin belajar tiap hari kayak aku," cengir Tono menggoda ibunya.

"Hush! Sudah sana mandi! Minyaknya sudah panas, No? Ibu mau nggoreng bakwan, kamu siapin mendoannya." Sarmiyah menutup obrolan.

Sarwono sigap melaksanakan tugasnya. Ia sudah piawai urusan menggoreng mendoan, tempe tipis dan lebar khas Banyumasan itu, berkat pengalaman menjadi asisten ibunya sejak tamat madrasah aliyah dua tahun lalu. Di luar sana matahari mulai rebah, warung gorengan mereka akan didatangi  pembeli yang mencari lauk makan malam.

Di sela-sela menggoreng mendoan, ponsel Sarwono di atas meja dapur berdering; tanda ada pesan masuk. Sarwono membaca isinya, dan air mukanya berubah gelap. Namun sedapat mungkin disembunyikannya dari tatapan ibunya.

Usai waktu isya Sarwono pamit membeli rokok. Kesibukan menggoreng pun telah purna, sehingga ibunya sama sekali tidak keberatan. Ia sengaja berjalan kaki  menuju warung yang jauh dari rumah. Semata-mata ia bermaksud melerai kekusutan pikiran yang ditimbulkan pesan yang masuk ke ponselnya tadi. Karena si pengirim pesan itu adalah kekasihnya, Ningsih.

Mereka adalah pasangan kekasih sejak bangku Aliyah. Sarwono  telah merasa mantap ingin melamar Ningsih. Tetapi gadis itu keberatan dan malah ingin merantau ke luar negeri. Alasannya, Ningsih ingin mengumpulkan modal sebelum menikah. Sarwono terang-terangan tidak setuju. Ia khawatir hal-hal buruk bisa saja menimpa gadis manis itu di negara orang. Tetapi gadis itu tetap bersikeras.

'Kecuali kamu punya banyak uang dalam waktu singkat, maka aku bersedia mengubah keputusanku.' Itulah syarat dari Ninggsih di akhir pesan.

Sarwono marah pada Ningsih. Apakah gadis itu menyuruhnya mencuri, atau menyupang pesugihan? Mana ada uang banyak dalam waktu singkat! Jelek-jelek begini, Sarwono masih punya iman. Berjualan gorengan memang tidak serta merta membawanya kaya raya, tapi pasti cukup untuk memulai hidup baru yang bersahaja. Gila! Kekasihnya telah menjadi gila karena silau harta.

Terbawa pikiran yang kusut, tanpa sengaja Sarwono salah  membelok ke tanah kosong yang cukup lebar. Tak ada bangunan apapun di situ, kecuali semak-semak dan beberapa pohon pisang. Cahaya lampu  jalan pun tidak mampu menerangi seluruh areal tersebut. Mendadak matanya menangkap sesosok manusia,  duduk bersila di bawah salah satu pohon pisang. Sarwono menelan ludah. Manusia itu terlihat tak waras, dengan pakaian  berantakan. Sarwono berhenti melangkah, lalu putar badan. Di saat itulah ia mendengar orang itu bicara pada seseorang.

"Ya, Pak. Sebagian besar buruh, pedagang, penerbang dara, dan tukang main. Di sini juga gudang TKW. Ya, banyak balita juga, Pak. Baik, Pak. Saya tunggu perintah selanjutnya."

 Sarwono mengernyit heran. Percakapan itu terdengar waras sekaligus ganjil. Di balik punggungnya, orang itu tengah menyimpan ponselnya ke saku baju.

"Kamu mau ke mana, No? Kemarilah! Aku kawan lamamu." Sarwono terkejut setengah mati. Merasa penasaran, ia  berpaling penuh selidik pada orang tersebut. "Apa kamu sudah lupa pada  si Cacing?"

Julukan itu memunculkan satu nama di benak Sarwono. Si Cacing adalah olok-olokan untuk teman sekelasnya di masa SMP dulu. Temannya itu begitu kurus kerempeng sehingga sering jadi sasaran empuk berandal sekolah. Sarwono ingat, ia pernah beberapa kali membela anak itu. "Cahyo? Benarkah kamu adalah Cahyo? Kenapa kamu jadi begini?"

Laki-laki itu tergelak. Ia mengajak Sarwono duduk di dekatnya. "Jangan takut, No. Aku masih waras, kok. Ini cuma pekerjaan saja." Sarwono masih bergeming.

"Aku serius, No. Buktinya, aku masih mengenalimu. Hanya orang waras yang  memiliki ingatan jernih, bukan?" Akhirnya Sarwono mau juga duduk di dekat laki-laki  itu.

Mulanya Sarwono lebih banyak diam dan menyimak saja cerita Cahyo. Katanya, selulus SMP kedua orangtuanya meninggal mendadak. Ia lalu diasuh salah satu paman dari ibunya di luar pulau, dengan janji akan disekolahkan. Sedangkan rumah warisan orang tuanya segera dijual Paman dari pihak ayah; uangnya konon akan didepositokan di bank hingga Cahyo lulus SMA kelak.

"Tapi Pamanku pembohong semua. Ternyata mereka telah janjian membagi uang hasil penjualan rumah, tanpa menyisakan untukku. Alih-alih disekolahkan, aku malah disuruh kerja rodi di perkebunan sawit." Cahyo berkisah  perihal nasib malangnya.

Untunglah, kata  Cahyo, ada tetangga pamannya yang kasihan pada nasibnya. Ia diselamatkan dari perbudakan, dengan jalan kembali ke tanah Jawa. Sampai di sini ia terdiam. Sarwono pun masih tak berkomentar. Baginya, cerita Cahyo mirip lakon sinetron; meskipun bisa jadi benar-benar terjadi.

"Kamu diam karena masih ragu padaku, ya, No? Mari kutunjukkan sesuatu. Sebenarnya ini rahasia, tapi kamu dulu baik padaku." Cahyo mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik baju. Lalu ia menunjukkan isinya. Di bawah penerangan jalan yang remang, Sarwono bisa membaca bahwa itu adalah surat kontrak. "Aku tahu kamu cuma jualan gorengan bersama ibumu. Memang berapa duit yang bisa kamu hasilkan? Ayo bergabung bersamaku! Bayarannya besar, yang penting kamu tahan malu."

Cahyo kembali bertutur. Orang yang dulu menyelamatkannya telah mengenalkannya  pula pada pekerjaan tak lazim: menyaru sebagai orang gila. 
Untuk pekerjaan aneh ini, Cahyo harus mendaftar pada sebuah agensi rahasia. Agensi ini hanya bisa dimasuki berbekal rekomendasi dari anggota lama. Setelah diterima sebagai anggota baru, Cahyo diberi pelatihan rupa-rupa teknik penyamaran, dan ilmu bela diri. Ia akan diberi orderan oleh agensi, jika dianggap telah siap.

"Kamu tahu, No? Banyak orang penting yang jadi klien agensiku. Mereka yang butuh informasi detail suatu daerah, gemar memakai jasa kami sebagai orang gila gadungan. Mereka pun berani membayar mahal. Bagaimana? Kamu pasti tertarik! Uang, No, bayangkan uang yang banyak! Bukankah kamu butuh itu?" Cahyo terus membujuk Sarwono. Matanya berkilat-kilat, mulutnya menyeringai.

Sarwono gemetar hatinya. Kepalanya terasa berputar-putar oleh kata-kata teman lamanya. Semua terdengar gila baginya. Gila! (*).

Cilacap, 0310-121119

8 komentar:

  1. Bagus mbak. Salam blogger Cilacap :D

    BalasHapus
  2. Bagi tips biar tulisannya dapat dimuat dong mba.

    Salam saking blogger Kebumen 😄
    Ditunggu kunjungannya di blog www.sampulsastra.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Mas Gunawan, salam kenal.
      Biar dimuat di media, pertama-tama kita pelajari dulu selera redaktur media tersebut. Misalkan Radar Banyumas, menyukai cerpen-cerpen realis, dan (kalo bisa) kental unsur lokalitas pada setingnya, Mas. 😄

      Hapus
  3. Mengalir manis, Mba. Gak kerasa eh udah ending aja �� Barakallah, Mba

    BalasHapus